Author
Tim Katalis

created_Dreams_by_muted_painCypher Talks to Agent Smith:

(Pausing, he examines the meat skewered on his fork) You know, I know that this steak doesn’t exist. I know when I put it in my mouth, the Matrix is telling my brain that it is juicy and delicious. After nine years, do you know what I’ve realized? (He pops it in, eyes rolling up, savoring the tender beef melting in his mouth) Ignorance is bliss. I don’t want to remember nothing. Nothing! You understand? And I want to be rich. Someone important. Like an actor. You can do that, right? All right. You get my body back in a power plant, reinsert me into the Matrix and I’ll get you what you want.

The Matrix adalah salah satu film favoritku, yang seringkali aku tonton lagi saat aku merasa jenuh atau sedang galau. Film yang katanya terinspirasi dari karya agung filsuf Prancis, Jean Baudrillard, ini memang menarik—yah paling tidak filmnya cukup menghiburlah, terutama bagi orangorang yang menggandrungi teori-teori terkini mengenai kritik terhadap modernisme. Di salah satu adegan, Neo bahkan memegang sebuah buku berjudul Simulacra, sebuah teori dari Baudrillard yang singkatnya menjelaskan proses memanipulasi kenyataan. Simulakra sendiri bukanlah sesuatu yang baru sebenarnya. Beberapa tahun sebelum Baudrillard, Guy Debord—yang juga dari Prancis—telah menerbitkan buku (yang kemudian juga dibuat film oleh orang yang sama) berjudul Society of The Spectacle. Secara konsisten, Debord beserta para individu yang bertemu dalam Situationist International terus menelurkan analisaanalisa turunan untuk mengungkap spektakel (atau simulakra, dalam bahasa Baudrillard) yang merupakan efek langsung dari kapitalisme mutakhir.

Dan The Matrix mencoba memotret halhal yang hendak disampaikan oleh orangorang yang disebutkan di atas. Aku sendiri kurang tertarik dengan efekefek sinematografi yang digembargemborkan oleh para kritikus film sebagai sesuatu yang revolusioner. The Matrix menjadi favoritku terutama karena dia mempertanyakan sekaligus mencoba menjelaskan banyak hal yang mendera kehidupan seharihariku. Beberapa kawanku menjadikan film yang disutradai oleh Wachowski bersaudara ini sebagai favoritnya karena banyak mengandung nilai-nilai filosofis. Tak dapat disangkal, memang. Salah satu dari banyak hal tersebut adalah pertanyaan, “What is real?” yang diajukan sang kapten Morpheus kepada Neo.

Pemimpin dari kapal perang bernama Nebukanedzar ini juga banyak memukul Neo dengan pertanyaanpertanyaan yang menggugat kesadaran versi filsuf modern. Kita samasama tahu bahwa orangorang Marxis di lokal kita masingmasing (yang ratarata Leninis atau turunannya) sangat horny dengan yang namanya kesadaran. Tak heran jika liriklirik lagu yang mereka buat, sloganslogan yang mereka kumandangkan, bukubuku yang mereka terbitkan, berisi frasa atau kalimat seperti “bangkitkan kesadaranmu”, “demi kesadaran rakyat”, “buang kesadaran palsu”, blablablabla… Dan setelah bertahuntahun mereka mengorganisir massa, tetap saja tidak terjadi revolusi seperti yang mereka idamidamkan. Tak hanya di situ, para organiser handal mereka satu per satu kabur: ada yang pindah organisasi, ada yang jadi politikus, ada juga yang kemudian hanya menjadi liberal-hedonis.

Dalam The Matrix, Cypher adalah salah satu karakter unik. Dia mempertanyakan kesadaran dan kenyataan yang menyelubungi hidup hariannya. Dia tidak puas dengan halhal tersebut sehingga memilih bergabung dengan para pejuang yang melawan dominasi mesin. Ya, dia memilih untuk menelan pil merah.

Sekian waktu bersama para manusia dengan lubanglubang di tubuhnya, Cypher menyesal karena tidak memilih pil biru saja. Makanan yang sama setiap harinya di Nebukanedzar, perasaan takut terbunuh saat memasuki dunia Matrix, pelarian yang sama saat melihat para agen Matrix—membuatnya sadar bahwa bukan hal itulah yang dia inginkan.

Dia sadar saat mengunyah steak, Matrix memerintahkan selsel dalam otaknya untuk berpikiran bahwa steak tersebut lezat-nikmat-sedap. Hal yang sama berlaku saat dirinya minum anggur, menghisap cerutu, dan melihat perempuan seksi berambut pirang, coklat, merah, dan lainlain. Cypher sadar bahwa itu semua hanyalah ilusi yang dikonstruksikan oleh dunia Matrix melalui pola pikir dan teknikteknik otoritarian lainnya.

Yakinlah, lelaki berkepala plontos itu sadar benar bahwa dunia Matrix adalah dunia ilusi. Dunia yang bukan sebenarnya. Karenanya, Cypher sangat-sangat menginginkan menjadi orang penting yang terkenal, bergelimang harta kekayaan, dipeluk beberapa perempuan seksi sekaligus—di dalam dunia Matrix itu sendiri. “Ignorance is bliss!” selorohnya yakin sambil membuang asap cerutu.

Dalam konsepsi Nietzschean, mental manusia terkategorikan menjadi dua bagian yang hidup (kata “hidup” di sini bermaksud untuk menjelaskan bahwa masingmasing subyek dalam kategorikategori tersebut terus bergerak, tidak dogmatis dan statis seperti fatwa agama). Mereka yang tidak bisa melakukan apaapa selain diperintah (bermentalitas budak), dan mereka yang berani menyongsong serta memperjuangkan takdirnya sendiri meski sakit adalah hal inheren dalam pilihan tersebut.

Dalam kategori lelaki yang terkenal akan kumis lebatnya ini, Cypher adalah karakter bermentalitas budak. Meskipun memiliki kesadaran “revolusioner” yang digaungkan oleh orangorang kiri-otoritarian, Cypher tidak berani untuk meneruskan takdirnya: meng-overcome tragedi. Lelaki yang akhirnya terbunuh di Nebukanedzar tersebut, hanya berhasil melampaui tahapan nihilisme-pasifnya Nietzsche. Selebihnya, Cypher tak berani untuk mengarungi lautan tanpa tepi dengan sampan kecil, sendirian.

Salah satu hal yang membingungkan dari pemikiran Nietzsche adalah konsepnya soal “perulangan abadi” (di beberapa buku terjemahan berbahasa Indonesia, disebutkan juga “kembalinya segala sesuatu”). Bagaimana mungkin pria yang terkenal karena sabda “Tuhan Telah Mati” ini meyakini hal tersebut sementara dia sendiri sangat yakin bahwa “tak ada jalan kembali”? Bukankah kematian Cypher sebelum hidup di dunia Matrix lagi adalah bukti bahwa tak ada yang namanya jalan kembali?

Konsep tragedi Sisipus seringkali nampak seperti pisau bermata dua. Di satu sisi bisa mengupas kepalsuan konsep kesenangan yang bisa membuat kita kuat, di sisi lainnya bisa melukai takdir personal kita terutama melalui bumbu dogma para pemuka agama yang harus memasrahkan diri kita kepada tuhan mereka.

Dengan mengangkat kisah Tragedi Yunani Dionisus, Nietzsche mencoba menelaah lebih jauh lagi makna hidup. Tak ada yang namanya siklus! Polibios, salah seorang negarawan yang cukup terkenal, berteori bahwa konsep negara adalah sebuah siklus yang tak terputus. Monarki adalah awalnya. Pengelolaan kekuasaan secara absolut jelas akan menimbulkan rasa iri. Ketidakpuasan dari orangorang yang tidak memiliki kekuasaan akan menyebabkan monarki lengser. Saatnya untuk aristokrasi: hanya kalangan bangsawan saja yang berhak mengatur hidup ini. Tentu saja hal tersebut tak cukup memuaskan banyak orang bukan? Gejolak pun takan terhindarkan. Sistem oligarki akan menggantikan yang lebih uzur. Sekian waktu, orangorang yang berada di luar kekuasaan tak mampu lagi menahan amarah mereka. Demokrasi harus dibangun sekarang juga! Sistem demokrasi yang relatif lebih bebas dari sistemsistem pendahulunya, menciptakan peluang anarki. Sebagaimana analisa para negarawan, orangorang akan lelah dengan sendirinya terhadap sistem yang membebaskan siapa saja. Monarki kembali berkuasa.

Terdapat banyak contoh lain yang mencoba membenarkan bahwa hidup ini adalah siklus. Petuah para spiritualis kontemporer yang tak lain adalah bungkus baru dari pecinta klenik, misalnya. Nikmati sajalah apa yang ada, toh setiap orang akan berada di atas dan di bawah.

Reduksi terhadap makna hidup inilah yang membuat Nietzsche gatal dan merancang palu untuk menggaruknya. Perulangan abadi adalah sesuatu yang tak terelakkan, tapi ia bergerak secara spiral—bukan lingkaran bulat yang kembali di satu titik tertentu. Perulangan abadi tak pernah menemui hal yang benarbenar sama dan universal semenjak Nietzsche juga sadar bahwa salah satu kekuatan besar dalam hidup ini adalah chaos.

Lalu benarkah tak ada jalan kembali? Hanya kematianlah hal yang layak disebut sebagai jalan kembali. Dengan contoh Cypher, mungkin hal itu terdengar ekstrim. Tapi sifat apalagi yang mendekati tepat, saat diri kita menolak untuk menjalani takdir personal diri kita sendiri selain mati?

Tema cerita dari Sang Alkemis yang ditulis oleh Paulo Coelho mungkin akan lebih bisa diterima oleh orang banyak untuk contoh konsep tak ada jalan kembali. Oh, atau sabdasabda yang dikumandangkan oleh Mario Teguh?

Dalam dunia yang menciptakan pasifikasi lewat tontonan, tentu saja Cypher adalah sosok antagonis—selain Agen Smith, tentu saja—yang harus disalahkan. Bayangkan suasana seperti ini: The Matrix diputar di lapangan bola dengan layar besar, penonton sekitar seratusan orang. Setelah khusuk menonton film dari awal, “Ignorance Is Bliss”-nya Cypher pasti akan banyak mendapat cemooh dari para penonton. Apalagi kalimat sakral tersebut diucapkan dengan mimik dan gestur tubuh yang keren.

Bagi kalangan kiri, tempat Cypher juga kurang lebih sama. Yah paling tidak, ada sedikit bumbu “Dasar anarkis! Borjuis kecil!” semua yang bagi mereka terasa menjijikan.

Jika kita melihat dengan sudut pandang yang lebih diperluas, Cypher adalah mayoritas orangorang yang berada di sekeliling kita. Ia bisa jadi bos kita, sahabat fesbuk, follower twitter, orangtua, juga pasangan kita.

Menyebalkan memang, tapi beginilah kenyataan bagi kita yang disusui oleh payudara modernisme. Kita seringkali kecewa, marah, muak, dengan orangorang seperti itu. Terutama jika sudah menyangkut halhal yang berkaitan dengan komitmen dan aspekaspek personal kita.

Tapi apakah kita akan mendegradasikan diri kita sendiri dengan kutukankutukan tipikal manusia modern atau orangorang kiri yang sangat kaku itu—yang dengan mudahnya menyalahkan iniitu lalu memujamuji kekuatan kapital? Bukankah dalam hidup ini tidak ada yang benar dan semuanya diperbolehkan?

Berharap orangorang seperti Cypher bisa berubah menjadi lebih pengertiaan dan menjadi lebih bijak adalah anggapan yang sama bodohnya dengan slogan “Polisi adalah pengayom masyarakat.” Dibutuhkan lebih dari sekedar kesadaran untuk memukul balik mereka, karena seperti yang dibilang Nietzsche, orangorang bermentalitas budak akan selalu ada dan mereka selalu butuh pecut.

Adalah hal yang penting untuk menyadari posisi kelas dan takdir personal kita. Bukan sematamata demi kemenangan kolektif atau kelas, tapi demi menyadari bahwa hidup ini adalah perang yang terus berkelanjutan. Sebuah perang besar, yang pada zaman ini bukan lagi perang antara kebenaran melawan kebatilan. Sebuah perang yang melibatkan setiap individu di dalamnya—perang spiritual.

Advertisements